Sunday, November 10, 2013

TEMPAT HIBURAN MALAM DAN MASJID




Rasulullah Saw bersabda: “I’mal li Dunyaka Ka  Annaka Ta’isyu Abadan, wa A’mal li Akhiratika Tamutu Ghadan”. Hadits ini menunjukkan spirit tentang dua hal yang berbeda, yang pertama menganjurkan giat bekerja, mulai bangun pagi, mempersiapkan segala kebutuhan kerja kemudian berangkat bekerja dengan penuh semangat, dan mengerjakan pekerjaannya dengan penuh konsentrasi, kemudian sampai pulang pun kadangkala masih menyisakan pekerjaan yang kemudian dikerjakan di rumah. Kemudian yang kedua, yaitu sisi ibadah (ubudiah), dari segala aktifitas yang begitu padat tersebut ternyata Islam menganjurkan umatnya untuk meluangkan waktunya untuk beribadah. Beribadah yang dimaksud adalah agar segala aktifitas manusia tersebut dipasrahkan kepada Allah Swt dan agar menjadi amal shaleh. Disamping itu, beribadah juga mengandung dimensi relaxasi ruhany, sehingga diharapkan setelah beribadah maka pikiran menjadi fresh badan menjadi segar kembali. 

Dizaman modern ini tingkat kesibukan manusia semakin padat, jangankan waktu untuk Tuhannya, untuk keluarganya bahkan untuk dirinya sendiri saja kadangkala terabaikan, sehingga banyak masyarakat modern yang bergelimangan harta kadangkala kehidupan keluarganya tidak seindah apa yang ia miliki, besarnya jumlah perceraian dan kenakalan remaja disinyalir merupakan sebab dari padatnya aktifitas manusia pada saat ini. Jauh sebelum masyarakat modern ada, Islam telah sejak dulu mengajarkan agar manusia tidak salah dalam mencari solusi kepenatan hidup agar selalu kembali kepada Allah Swt. Namun kebanyakan masyarakat modern lebih senang melepaskan beban pikirannya ke tempat hiburan, padahal tidak sedikit madharat (kerugian) yang akan diperoleh dari tempat tersebut, misalnya alkohol karena mustahil ditempat hiburan tanpa alkohol. Kemudian tentunya uang yang dikeluarkan sangat mubadzir (sia-sia) yang jumlahnyapun tidak sedikit. Mengeluarkan banyak uang ditempat hiburan malam yang hanya untuk mencari ketenangan hidup yang belum tentu berdampak positif tentu harus dipertimbangkan, hal ini sebagaimana case (kasus) yang terjadi pada Auditor utama BPK. 

Dalam hal ini, sebenarnya Islam telah menganjurkan agar manusia taqarrub (dekat) dengan Allah Swt dalam meluapkan beban pikirannya. Dekat dengan Allah Swt tidak membutuhkan biaya, namun hanya butuh kemauan, padahal pepatah berkata: “dimana ada kemauan, disitu ada jalan”, kalau kemauan saja tidak ada, bagaimana mau ada jalan? Dekat dengan Allah Swt tentu banyak cara, bisa dengan shalat maupun membaca buku-buku tentang bagaimana menata hati. Hal ini akan berdampak positif, baik bagi pelakunya maupun orang sekelilingnya, karena dampak dekat Allah Swt itu juga bermuara pada nilai sosial. Wallahu ‘Alam.


Senin, 4 Nov. 13


No comments:

Post a Comment