Rasulullah Saw bersabda: “I’mal li Dunyaka Ka Annaka Ta’isyu Abadan, wa A’mal li Akhiratika
Tamutu Ghadan”. Hadits ini menunjukkan spirit tentang dua hal yang berbeda,
yang pertama menganjurkan giat bekerja, mulai bangun pagi, mempersiapkan segala
kebutuhan kerja kemudian berangkat bekerja dengan penuh semangat, dan
mengerjakan pekerjaannya dengan penuh konsentrasi, kemudian sampai pulang pun
kadangkala masih menyisakan pekerjaan yang kemudian dikerjakan di rumah.
Kemudian yang kedua, yaitu sisi ibadah (ubudiah),
dari segala aktifitas yang begitu padat tersebut ternyata Islam menganjurkan
umatnya untuk meluangkan waktunya untuk beribadah. Beribadah yang dimaksud
adalah agar segala aktifitas manusia tersebut dipasrahkan kepada Allah Swt dan
agar menjadi amal shaleh. Disamping itu, beribadah juga mengandung dimensi relaxasi ruhany, sehingga diharapkan
setelah beribadah maka pikiran menjadi fresh
badan menjadi segar kembali.
Dizaman modern ini tingkat
kesibukan manusia semakin padat, jangankan waktu untuk Tuhannya, untuk
keluarganya bahkan untuk dirinya sendiri saja kadangkala terabaikan, sehingga
banyak masyarakat modern yang bergelimangan harta kadangkala kehidupan
keluarganya tidak seindah apa yang ia miliki, besarnya jumlah perceraian dan
kenakalan remaja disinyalir merupakan sebab dari padatnya aktifitas manusia
pada saat ini. Jauh sebelum masyarakat modern ada, Islam telah sejak dulu
mengajarkan agar manusia tidak salah dalam mencari solusi kepenatan hidup agar
selalu kembali kepada Allah Swt. Namun kebanyakan masyarakat modern lebih
senang melepaskan beban pikirannya ke tempat hiburan, padahal tidak sedikit madharat (kerugian) yang akan diperoleh
dari tempat tersebut, misalnya alkohol karena mustahil ditempat hiburan tanpa
alkohol. Kemudian tentunya uang yang dikeluarkan sangat mubadzir (sia-sia) yang jumlahnyapun tidak sedikit. Mengeluarkan
banyak uang ditempat hiburan malam yang hanya untuk mencari ketenangan hidup yang
belum tentu berdampak positif tentu harus dipertimbangkan, hal ini sebagaimana case (kasus) yang terjadi pada Auditor
utama BPK.
Dalam hal ini, sebenarnya Islam
telah menganjurkan agar manusia taqarrub
(dekat) dengan Allah Swt dalam meluapkan beban pikirannya. Dekat dengan Allah
Swt tidak membutuhkan biaya, namun hanya butuh kemauan, padahal pepatah
berkata: “dimana ada kemauan, disitu ada
jalan”, kalau kemauan saja tidak ada, bagaimana mau ada jalan? Dekat dengan
Allah Swt tentu banyak cara, bisa dengan shalat maupun membaca buku-buku
tentang bagaimana menata hati. Hal ini akan berdampak positif, baik bagi
pelakunya maupun orang sekelilingnya, karena dampak dekat Allah Swt itu juga
bermuara pada nilai sosial. Wallahu ‘Alam.
Senin, 4 Nov. 13


No comments:
Post a Comment