Sunday, November 10, 2013

SAATNYA RAKYAT CERDAS DALAM PEMILU



SAATNYA RAKYAT CERDAS DALAM PEMILU

Sebentar lagi, masyarakat indonesia akan mempunyai gawe besar, gawe besar tersebut dilaksanakan lima tahun sekali dengan memilih para wakil rakyat dan Presiden yang akan menjadi pemimpin rakyat dengan segudang amanat. Pemimpin yang bersih, berdedikasi tinggi, profesional, merakyat dan sifat-sifat terpuji lain yang tentunya berpihak kepada rakyat yan akan menjadi harapan masyarakat indonesia. Namun sebagian besar para calon pemimpin kita melakukan berbagai macam cara demi merebut simpati rakyat yang kebanyakan cara yang dilakukan tersebut bertolak belakang dengan apa yang menjadi kehendak rakyat. Salah satu contoh yang wajib ditampilkan dalam pemilu adalah proses money politik yang selalu menjadi ajang dalam rangka merebut suara rakyat.
Seakan akan bukan hal yang tabu dan baru, banyak masyarakat kita baik yang ada diperkotaan bahkan dipedalaman, mereka selalu beranggapan bahwa calon yang tidak memberikan uang dalam kontes pemilu tidak akan dicoblos, atau dengan kata lain siapa yang memberi uang maka calon itulah yang akan dipilih. Fenomena ini mengkristal dengan dalih sangat sederhana, bahwa banyaknya para pejabat yang korupsi menjadi satu-satunya masalah yang membuat rakyat kecil cemburu dan merasa dikhianati terhadap apa yang pernah dijanjikan oleh para calon pemimpin mereka.
Secara sederhana, sebenanya masyarakat indonesia tidak terlalu muluk-muluk dalam berkeinginan, hal ini banyak tercermin misalnya kita ke pelosok pedalaman yang akses jalannya rusak, para calon pemimpin yang mengcover wilayah tersebut hanya diharapkan untuk membenahi jalan tersebut agar dapat melancarkan akses ekonomi masyarakat tentunya menjadi satu-satunya keinginan yang harus dipenuhi, namun kebanyakan hal itu hanya menjadi janji yang tidak terbukti.
Jadi, apakah kita mau menyalahkan masyarakat yang mau menerima uang kecil dan mengabaikan hal besar? Jawabannya tentu tidaklah sederhana. Perbuatan masyarakat yang sudah mengkistal tersebut sudah menjadi bukti bahwa, para calon pemimpinnya hanya menjadikan rakyat sebagai batu loncatan demi meraup sebanyak mungkin suara dalam pemilu. Sifat-sifat terpuji dan pofesional yang seharusnya melekat pada diri seorang pemimpin menjadi hilang akibat tertutupi dengan sistem traksaksional.
Namun, sebagian masyarakat beranggapan bahwa apabila ada seorang calon pemimpin yang royal maka hal itu akan tercermin pada saat ia terpilih menjadi pemimpin, padahal kalau itu bukan karakter yang ada pada pemimpin tersebut bukankah akan menjadi boomerang bagi rakyat? Masyarakat indonesia tentunya harus selektif dalam memilih para calon pemimpin baik di daerah maupun yang nasional. Masyarakat juga jangan terlalu percaya dengan janji-janji politik yang tidak masuk akal, tentunya satu janji terpenuhi jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Masyarakat indonesia harus sadar bahwa para calon pemimpin bukanlah seorang malaikat yang tidak pernah ingkar janji atau selalu menepati janjinya, namun para calon pemimpin hanyalah manusia biasa, tetapi karena mungkin ia menjadi besar akibat pemberitaan media atau hal-hal lain yang membuat ia terpublish. Para calon pemimpin adalah manusia biasa yang tentunya bisa merealisasikan janjinaya atau mungkin mengingkarinya. Cerdas dalam memilih pemimpin akan dapat menentukan kemajuan bangsa. Wallahu A’lam.

Minggu, 10 Nov. 13



No comments:

Post a Comment