Tuesday, November 12, 2013

HARI PAHLAWAN




Hampir tidak ada pada zaman sekarang perang melawang penjajah dengan mengangkat senjata sebagaimana yang dilakukan oleh para pahlawan RI, dengan semangat tinggi para pahlawan rela mengorbankan harta, keluarga serta nyawanya demi kemerdekaan Indonesia. Namun mayoritas orang menganggap bahwa perang tersebut sangat berat karena diperlukan keberanian dan tekad yang tinggi yang tentunya hal itu belum tentu dimiliki oleh setiap orang. Namun siapa sangka perang melawan musuh didepan mata jauh lebih ringan bila dibandingkan dengan melawan diri sendiri, hal ini sebagaimana di sabdakan Nabi Saw usai perang badar, raja’na min jihadil ashgar ila jihadil akbar wahiya jihadun nafs, “kita telah kembali dari perang badar dan menuju perang yang besar yaitu perang melawan hawa nafsu”.
Harta boleh habis, keluarga boleh menjadi korban dan nyawa boleh melayang, namun semuanya itu jauh lebih ringan ukuranya daripada harus memerangi hawa nafsu. Indonesia memang sudah merdeka dari imperalis yang menjajah dengan memakai senjata, namun sebenarnya belum berdikari dalam ekonomi, pendidikan dan budaya. Peringatan hari pahlawan bukan hanya secara simbolis memperingatinya dengan upacara-upacara dan juga mengingat jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dimedan laga, namun juga bagaimana menginterpretasikan cara berjuang para pahlawan tersebut pada saat ini. Kalau dulu para pejuang perang dengan membawa senjata yang berfungsi untuk membunuh musuh, namun boleh jadi sekarang perjuangan adalah dengan wewenang yang berfungsi untuk menegakkan keadilan dan kemakmuran.
Makna perjuangan para pahlawan memang luas dan tidak hanya terbatas pada orang yang memegang senjata dan wewenang saja, namun lebih dari itu sebagaimana sabda Nabi Saw. kullukum ro’in mas ulun ‘an ro’iyyatih, “setiap manusia bertanggung jawab atas amanah yang diberikan”. Ibu rumah tangga yang mungkin aktifitasnya lebih banyak diwilayah domestik akan dapat menjadi pahlawan apabila mampu menjadi filter bagi income keluarga apakah dari hasil kerja keras atau korupsi, ibu rumah tangga mungkin juga dapat menjadi pahlawan apabila mampu menjadi ibu yang baik demi anak-anak dan suaminya, bahkan para pengemis pun mungkin dapat menjadi pahlawan apabila menemukan uang atau benda berharga dijalan dengan tidak mengambilnya karena bukan haknya, dan tentu banyak juga para pahlawan yang tidak diketahui banyak orang.
Makna pahlawan sebernarnya terletak pada spirit dari pejuang tersebut dalam melawan penjajah, dan tujuannya adalah mengusir para penjajah dibumi indonesia demi generasi berikutnya.  Penjajahan sebetulnya adalah merampas hak setiap warga negara, baik hak merdeka, hak mendapatkan kehidupan yang adil dan makmur, hak kebebasan dan juga hak berdemokrasi. Apabila hak-hak setiap orang terampas akbiat ulah seseorang maupun sekelompok orang maka itulah sebenarnya hakikat penjajah, karena penjajah pada saat ini bisa memakai jas dengan sejata kerjasama atau MOU, juga bisa janji-janji bohong yang tidak dapat terrealisasikan, dan juga bisa memakai surban dengan mengatasnamakan Islam. Wallahu ‘Alam.

Senin, 11 Nov. 13



No comments:

Post a Comment