Hampir tidak
ada pada zaman sekarang perang melawang penjajah dengan mengangkat senjata
sebagaimana yang dilakukan oleh para pahlawan RI, dengan semangat tinggi para
pahlawan rela mengorbankan harta, keluarga serta nyawanya demi kemerdekaan Indonesia.
Namun mayoritas orang menganggap bahwa perang tersebut sangat berat karena
diperlukan keberanian dan tekad yang tinggi yang tentunya hal itu belum tentu
dimiliki oleh setiap orang. Namun siapa sangka perang melawan musuh didepan
mata jauh lebih ringan bila dibandingkan dengan melawan diri sendiri, hal ini
sebagaimana di sabdakan Nabi Saw usai perang badar, raja’na min jihadil ashgar ila jihadil akbar wahiya jihadun nafs, “kita
telah kembali dari perang badar dan menuju perang yang besar yaitu perang
melawan hawa nafsu”.
Harta boleh
habis, keluarga boleh menjadi korban dan nyawa boleh melayang, namun semuanya
itu jauh lebih ringan ukuranya daripada harus memerangi hawa nafsu. Indonesia
memang sudah merdeka dari imperalis yang menjajah dengan memakai senjata, namun
sebenarnya belum berdikari dalam ekonomi, pendidikan dan budaya. Peringatan
hari pahlawan bukan hanya secara simbolis memperingatinya dengan upacara-upacara
dan juga mengingat jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dimedan laga, namun
juga bagaimana menginterpretasikan cara berjuang para pahlawan tersebut pada
saat ini. Kalau dulu para pejuang perang dengan membawa senjata yang berfungsi
untuk membunuh musuh, namun boleh jadi sekarang perjuangan adalah dengan
wewenang yang berfungsi untuk menegakkan keadilan dan kemakmuran.
Makna
perjuangan para pahlawan memang luas dan tidak hanya terbatas pada orang yang
memegang senjata dan wewenang saja, namun lebih dari itu sebagaimana sabda Nabi
Saw. kullukum ro’in mas ulun ‘an
ro’iyyatih, “setiap manusia bertanggung jawab atas amanah yang diberikan”.
Ibu rumah tangga yang mungkin aktifitasnya lebih banyak diwilayah domestik akan
dapat menjadi pahlawan apabila mampu menjadi filter bagi income keluarga apakah
dari hasil kerja keras atau korupsi, ibu rumah tangga mungkin juga dapat
menjadi pahlawan apabila mampu menjadi ibu yang baik demi anak-anak dan
suaminya, bahkan para pengemis pun mungkin dapat menjadi pahlawan apabila
menemukan uang atau benda berharga dijalan dengan tidak mengambilnya karena
bukan haknya, dan tentu banyak juga para pahlawan yang tidak diketahui banyak
orang.
Makna pahlawan
sebernarnya terletak pada spirit dari pejuang tersebut dalam melawan penjajah,
dan tujuannya adalah mengusir para penjajah dibumi indonesia demi generasi
berikutnya. Penjajahan sebetulnya adalah
merampas hak setiap warga negara, baik hak merdeka, hak mendapatkan kehidupan
yang adil dan makmur, hak kebebasan dan juga hak berdemokrasi. Apabila hak-hak
setiap orang terampas akbiat ulah seseorang maupun sekelompok orang maka itulah
sebenarnya hakikat penjajah, karena penjajah pada saat ini bisa memakai jas
dengan sejata kerjasama atau MOU, juga bisa janji-janji bohong yang tidak dapat
terrealisasikan, dan juga bisa memakai surban dengan mengatasnamakan Islam.
Wallahu ‘Alam.
Senin, 11 Nov. 13



